Minggu, 25 Desember 2011

BILA AL-QUR’AN BICARA




          Waktu engkau masih kanak-kanak; kau laksana kawan sejatiku; dengan wudhu aku kau sentuh dalam keadaan suci. Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari. Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari. Setelah usai engakupun menciumku mesra.
          Sekarang engkau telah dewasa……….
          Tampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku. Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?
          Menurutku barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu, atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
          Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya. Aku sudah engkau anggap sebagai perhiasan rumahmu. Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa, atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hanta dan setan.
          Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dan kesepian. Di atas almari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
          Dulu pagi-pagi sekali surat-surat yang ada padaku, engkau baca beberapa halaman, sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.
          Sekarang pagi-pagi sambil minum kopi, engkau  baca Koran pagi atau nonton TV. Waktu senggang engkau gunakan membaca buku karangan manusia. Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa, engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan. Waktu berangkat kerjapun engkau lupa baca pembuka suratku (Basmalah). Di perjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi. Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu. Sepanjang perjalanan, radiomu selalu tertuju stasiun radio favoritmu. Aku tahu kalau itu bukan stasiun radio yang melantunkan ayatku.
          Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.
          Di komputermu pun kau putar musik favoritmu. Jarang sekali kau putar ayat-ayatku melantun. Email temanmu yang ada ayat-ayatku pun kadang engaku abaikan, engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
          Benarlah dugaanku bahwa engaku kini sudah benar-benar melupakanku. Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV. Menonton pertandingan bola, musik atau film dan sinetron. Di depan komputer berjam-jam engakau betah duduk, hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah.
          Waktupun cepat berlalu, aku menjadi semakin kusam dalam almari. Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu. Seingatku hanya awal Ramadhan engaku membacaku kembali. Itupun hanya beberapa lembar dariku. Dengan suara dan lafal yang tidak semerdu dulu.
          Engkau pun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku. Apakah Koran, TV, radio, komputer dapat memberikanmu pertolongan? Bila engaku dikubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba. Engkau akan diperiksa oleh para melaikat suruhan-Nya. Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engaku dapat selamat.
          Sekarang engaku begitu enteng membuang waktumu…..
          Setiap saat berlalu….. Berkuranglah jatah umurmu….. dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu….. Engaku bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu, apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu. Bila engkau baca selalu dan engkau hayati….. Di kuburanmu nanti….. Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan yang akan mambantu engkau membela diri. Bukan Koran yang engkau baca yang akan membantumu dari perjalanan di alam akhirat. Tapi Akulah “Al-Qur’an” kitab sucimu, yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.
          Peganglah aku lagi….. Bacalah kembali aku setiap hari, karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci, yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui, yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah SAW. Keluarkanlah aku dari almari atau lacimu…..
          Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu. Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu, agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.
          Sentuhilah aku kembali…
          Baca dan pelajari aku lagi…
          Setiap datangnya pagi dan sore hari seperti dulu… dulu sekali… Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos… Di surau kecil kampungmu yang damai.
          Jangan aku engkau biarkan sendiri dalam bisu dan sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar